Saturday, 9 April 2022


Suasana sekolah ricuh, ramai. Seluruh siswa baru tahun 2015 berbondong memasuki ruangan aula sekolah. Seorang anak lelaki berdiri di tengah lapangan dengan kedua tangan yang tengah menarik telinganya. Di depannya, seorang pengurus Osis berdiri dengan penuh ketegasan.

"Ucapkan lebih lantang!" 

Anak lelaki itu berteriak dengan raut muka penuh ketakutan, "Saya janji tidak akan telat lagi!!!"

Sementara aku tengah melihat kejadian itu, tetiba seorang teman mengagetkan diriku dengan sengaja, "Kenapa itu? Telat ya?" tanyanya dengan nada keras.

"Iya."

"Ayo masuk aula. Kau udah ditunggu anak-anak."

Seribu lima ratus siswa baru telah memenuhi ruangan aula. Suhu di dalam mendadak panas.

Siswa baru duduk menjadi dua kelompok. Perempuan menempati posisi kanan, sementara lelaki berada di posisi kiri. Di bagian tengah dikosongkan agar kami dapat berjalan sambil memantau setiap sudut tempat duduk siswa baru.

"Seluruh peserta Masa Taaruf Siswa dimohon untuk duduk tertib karena acara pembukaan agar segera dimulai." Terdengar MC mulai memberikan komando.

Aku berjalan ke depan, sembari sesekali memerhatikan dan memastikan bahwa seluruh siswa baru telah duduk dengan tertib. Mereka melempar senyum manis kepadaku. Salah satu ritual agar mendapat perlakuan baik dari kami.

"Dimohon untuk Kakak ketua Osis menempati kursi di depan."

Aku menuju kursi yang telah disiapkan. Di sampingku, kursi untuk kepala sekolah dan wakil-wakilnya telah terjajar rapi. 

"Widya, langsung dimulai aja," ucapku kepada MC agar acara segera dimulai.

Tak berselang lama, MC membuka acara. Kepala sekolah dan wakil-wakilnya pun kemudian memasuki aula. Mereka melempar senyum ramah kepada seluruh siswa baru sebagai ucapan selamat datang di sekolah kami.

MC mulai membuka acara. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan baik.

***
(dilanjut nanti, mau belanja ke pasar dlu)

Thursday, 31 March 2022

Industri perfilman Korea nampaknya tak pernah mengecewakan para penonton di seluruh belahan dunia. Mulai dari film bergenre Horor, Thriller, Laga, bahkan tentu saja Romance, hampir semuanya laris di pasaran. Sebut saja film 'Train to Bussan'. Film yang bercerita tentang mayat hidup ini sukses besar dan berhasil menghipnotis para penontonnya. Film ini mendapatkan jumlah penonton sebanyak 11juta orang di Korea Selatan. Hal ini membuktikan, meski lebih terkenal dengan drama romancenya, namun ternyata film horor dari Korea Selatan bisa membuat hati penonton terpikat.

Setelah sukses dan mendapat banyak penghargaan, Train To Bussan kemudian mengeluarkan film keduanya yang berjudul 'Peninsula'. Masih sama, film ini laris manis!

Melihat respon penonton yang luar biasa, Korea Selatan akhirnya merilis drama bertemakan zombi kembali. Namun kali ini bukan dalam bentuk film, melainkan series.

  Fakta Tentang Series 'All off Us Are Dead'  
All Of Us Are Dead (selanjutnya ditulis AOUAD) merupakan serial dari Korea Selatan yang bercerita tentang zombi. Serial ini telah tayang sejak 28 Januari 2022 kemarin di Netflix. Berikut adalah beberapa fakta tentang serial AOUAD

Diangkat dari Webtoon
AOUAD merupakan serial Netflix yang diangkat dari cerita di webtoon berjudul Now at Our School, All of Us Are Dead karya Joo Dong-geun. Popularitas yang tinggi dari webtoon inilah yang kemudian membuat para pemain tertarik untuk bergabung berperan dalam AOUAD.


Bertema Zombie 
Seperti yang sudah tertulis di atas, bahwa drama zombie Korea benar-benar dinantikan oleh para pecinta film. Hal ini tentu saja merupakan dampak dari suksesnya film Train to Bussan sebelumnya.

Selain bertemakan zombie, mayoritas cerita dari AOUAD berlatarkan lingkungan sekolah. Tentu saja, ini merupakan pemikat yang baik, karena sebagian besar penikmat drama korea memang berusia anak sekolah. Meski demikian, series ini juga didukung dengan hadirnya side story berupa cerita di luar lingkungan sekolah, misalnya kondisi di rumah pemain, di tempat pengungsian korban zombi, dan beberapa tempat lain.

Berbeda dengan drama lain yang lebih memusatkan cerita pada beberapa tokoh, karakter yang ditampilkan pada series ini cukup banyak, sehingga memberikan suasana yang lebih hidup dan natural.

Semua karakter yang dibawakan oleh pemain ditampilkan dengan sangat baik. Hal ini tentu memberikan kesan unik pada setiap tokohnya.

Bikin Deg-Degan 
Seperti drama thriller pada umumnya, AOUAD juga membuat penontonnya deg-deg an nggak berhenti-berhenti! Namun yang spesial dari AOUAD adalah kelanjutan ceritanya yang tidak mudah ditebak. AOUAD dikemas dengan alur maju pada ceritanya. 

Setiap episodenya selalu bikin penasaran dan sayang banget buat ditinggal. Penonton series ini bakal sering ngedumel sendiri, Lho kok malah ini yang mati! Lho kok dia kegigit zombi sih! Lho kok dia masih hidup sih? 

Visualisasi yang Sempurna!
Penampilan tokoh yang menarik dan alur cerita yang menghibur  akan terasa sia-sia jika visualisasi yang ditampilkan kurang baik. Hal ini sering terjadi pada beberapa film/series terutama di Indonesia. Sinematografi yang digarap dengan baik pada series ini patut diacungi jempol. 


Meski banyak yang menilai series ini terlalu bertele-tele, namun nyatanya AOUAD berhasil meraih  poin tertinggi dari seluruh pemutaran perdana drama Korea di Netflix.

Buat kamu yang suka series bergenre horor dan thriller, All of Us Are Dead harus banget masuk dalam list yang wajib kamu tonton!

Monday, 18 October 2021



Enggak tau kenapa, beberapa waktu ini, aku jadi cowok yang melankolis banget. Denger lagu sedih dikit, ikutan sedih. Apalagi kalau denger lagu tentang orang tua. Udah auto mewek tuh. Sebagai perantau kelas junior, rasanya masih belum bisa tinggal jauh dari mereka. Masih pengen digendong aja. Tapi pas inget umur, kayaknya jauh dari orang tua adalah pelajaran dasar untuk menjadi dewasa.


Pernah nggak sih kalian merasa kangen banget sama keluarga, padahal dulu udah dikasih waktu bertahun-tahun dekat sama mereka. Merasa pengen cerita banyak hal ke mereka, padahal sewaktu ketemu nggak banyak bertegur sapa.


Asal kalian tau, begitulah seorang lelaki. Makhluk Tuhan yang diciptakan dengan beribu rasa gengsi. Enggan mengakui perasaan diri, namun banyak yang menuntut agar jadi makhluk yang menghargai.


Banyak wanita yang menuntut agar lelaki selalu peka. Padahal kami ini juga manusia biasa. Tidak sepenuhnya paham dengan segala bentuk isyarat yang ada. Tak bisa menebak isi hati yang sebenarnya.


Lelaki bukan tipe orang yang banyak bercerita. Namun sekali kalian dengarkan isi hatinya, sudah pasti dia telah kalian buat nyaman karenanya.


Btw, di postingan ini aku mau cerita beberapa kisah tentang kehilangan. Dimana kita tahu, kehilangan adalah salah satu bentuk cara Tuhan agar kita bisa ikhlas dalam menjalani kehidupan.


Aku menulis ini karena beberapa hari lalu aku baru saja kehilangan banyak sekali hal berharga yang kumiliki. Mulai dari Pakde dan kakekku yang meninggal di hari yang sama. Kemudian pamanku yang juga menyusul mereka 10 hari kemudian, lalu  salah satu anggota keluargaku yang mengalami keguguran setelah lama menanti momongan. Tak berselang sebulan, tetangga yang merawatku dari kecil juga ikut meninggal dunia. Semua berlangsung hanya dalam waktu sebulan. Semua itu lalu diakhiri dengan hilangnya laptop yang dengan cerobohnya kuletakkan sembarangan.


Pada awalnya aku merenung, "Ya Allah ... kenapa, sih, semuanya diambil? Aku masih butuh mereka."


Namun kemudian aku menyadari, bahwa merenung tidak akan mengembalikan mereka semua kepadaku. Ikhlas merupakan sikap terbaik yang harus ada padaku. "Ternyata begilah cara Allah mengajariku untuk menjadi orang sabar dan ikhlas," renungku kemudian. 


Aku begitu berlebihan. Menganggap Tuhan memberiku banyak sekali cobaan. Padahal sebenarnya itu adalah salah satu ujian dalam menjalani kehidupan, agar aku mendapat hadiah berupa kesabaran. 


Baiklah, ini adalah beberapa kisah nyata tentang kehilangan dari orang-orang terdekat yang pernah kutemui. Bacalah, agar kalian tidak pernah merasa bahwa cobaan kalian adalah yang terberat dari Tuhan di antara semua manusia. Bacalah, agar kalian tahu bahwa setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing. Bacalah, agar kalian tidak berkata, "Enak ya jadi dia ... Hidupnya enak terus."


Kisah Alif

Alif adalah saudara sepupuku. Saat ini usianya sudah menginjak 18 tahun. Dia menjadi remaja yang mandiri dan tak pernah merepotkan orang lain. Namun di balik mandirinya seorang Alif, ada kisah menyedihkan yang pernah dilalui olehnya.


Tahun 2012, saat usia Alif masih sembilan tahun, dia dikaruniai seorang adik laki-laki. Aqsho namanya. Ibuku yang memberikan nama.  Diceritakannya bahwa Masjidil Aqsho adalah masjid yang sangat indah. Begitulah saat kelahiran Aqsho. Kehadirannya menjadikan suasana keluarga menjadi lebih indah.


Kebahagiaan Alif tak berlangsung lama. Setahun setelah kelahiran Aqsho, kakek Alif meninggal dunia. Padahal sejak kecil, ia dirawat oleh kakek dan neneknya. Hal itu disebabkan karena ibunya adalah seorang guru, sedangkan ayahnya menjadi tentara di Papua.


Beberapa bulan setelah meninggalnya sang kakek, nenek Alif pun meninggal juga. Hal itu membuat ibu Alif kemudian meninggalkan pekerjaannya dan berfokus untuk merawat Alif dan Aqsho.


Dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 2014, ibu Alif sakit-sakitan hingga kemudian meninggal dunia. Menerima kabar itu, ayah Alif kemudian pulang dari Papua. Namun sayangnya, belum sampai di rumah, Ayah Alif juga meninggal dunia. Ini kisah nyata loh ...


Bayangin ... Alif dan Aqsho yang masih kecil, ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan.


Alif dan Aqsho kemudian dirawat oleh seorang bapak tua bernama Pak Wul.  Pak Wul sebelumnya adalah seorang perawat ibu tua yang tinggal di desa kami. Ibu itu sebelumnya adalah seorang kepala sekolah, namun sayangnya ia hidup sendirian hingga kemudian Pak Wul-lah yang merawatnya.


Tahun 2015 akhir, Pak Wul meninggal dunia. Alif dan Aqsho kemudian dirawat oleh bibinya di Sukabumi. Semenjak saat itu, aku kehilangan semua kabar tentang dia.


Tahun 2017, sewaktu aku tinggal di Bogor, aku berusaha mencari kabar tentang Alif. Alhamdulillah, setelah dua tahun mencari, aku mendapatkan informasi tentang dia. tepat di awal tahun 2019 aku menuju Sukabumi untuk menjenguk Alif dan Aqsho.


Alif di tahun 2019 sudah tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Namun sayangnya, Alif bercerita bahwa di tahun 2017, Aqsho meninggal dunia karena paru-parunya bocor. Telinganya mengeluarkan darah. Saat itu usia Aqsho masih lima tahun.


Itulah kisah Alif. Setiap kali aku merasa kehilangan, aku selalu teringat kepadanya. Masih ada yang lebih berat kehilangannya dari pada diriku. Semoga dia diberikan umur yang panjang oleh Allah.


Kisah Depi

Depi adalah temanku waktu kecil. Dulu dia adalah perempuan yang manja dan centil. Namun sekarang, dia telah memiliki usaha kuliner pribadi yang dapat menopang hidupnya. Kita tahu, bahwa di balik terbentuknya karakter seseorang, selalu ada perjuangan di baliknya.


Depi yang kukenal waktu kecil selalu berpakaian mahal. Jika orangtuanya tak membelikan baju bagus untuknya, maka dia tak mau bersekolah. Depi hidup bahagia dengan orang tua yang sangat menyayanginya.


Ketika masuk usia ke-14 tahun, Ayah Depi meninggal dunia. Hal itu membuatnya menjadi anak yang pendiam. Depi waktu itu tak secentil dulu. Depi lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu ibunya di rumah.


Masuk usia SMA, Ibu Depi meninggal dunia. Depi yang pendiam kemudian menjadi Depi yang dewasa. Ia lebih siap dalam menghadapi segala hal. Setelah ibunya meninggal, Depi mencari uang dengan cara berjualan makanan di sekolah. Bahkan selulus SMA, dia membuka warung kuliner. 


Begitulah kisah Depi. Dari seorang yang centil dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan dewasa. Semua adalah hikmah yang didapat setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.


Desi Anggi Sari

Aku punya teman bernama Desi. Dia baik dan supel kepada teman-temannya. Sewaktu sekolah, dia sering mendapatkan rangking.


Suatu hari, aku pernah bermain ke rumahnya. Dia mengajakku untuk mengintip aktivitasnya sehari-hari.


Sepulang sekolah, Desi menjadi tukang parkir salah satu  supermarket di Jombang. Hal itu dilakukannya karena sang ibu telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya saat itu dalam kondisi lumpuh. Rumah Desi hampir digusur karena adanya perselisihan kepemilikan. Namun kemudian, ia berhasil menempati rumah itu karena bantuan berbagai kerabat.


Sepulangnya dari menjadi tukang parkir, Desi mengajakku berbelanja ke pasar. Ia berbelanja untuk kebutuhan memasak malam hari Yes ... Desi memasak untuk jualan di sekolah esok harinya. Ia yang memasaknya sendiri.


Sewaktu sekolah, Desi rajin berpuasa. Hal itu membuatnya lebih menjadi siswi yang hemat.


Gimana? Desi keren, nggak? Btw, aku dan Desi dulu pernah dikira pacaran karena saking deketnya. Wkwk.


***

Tiga kisah aja yang kutulis di sini. Setiap cobaan, pasti ada hikmah di baliknya. Setiap kali mentari tenggelam, bintang-bintang bermunculan. 

Sunday, 17 October 2021

 


Squid Game tampaknya masih menjadi serial terbaik bagi para pecinta drama, terutama drama Korea. Yups, film garapan Hwang Dong Hyuk ini berhasil menghipnotis para penonton agar menikmati setiap cerita yang disajikan di dalamnya. Serial Squid Game yang terdiri dari 9 episode dapat dinikmati di Netflix.


Squid Game menceritakan perjuangan banyak orang untuk mendapatkan uang, meski taruhannya adalah nyawa. Sebanyak 456 orang berada dalam satu tempat untuk berkompetisi pada sebuah permainan. Setiap pemain yang kalah akan tereliminasi dengan cara dihilangkan nyawanya.


Meski secara umum Squid Game bercerita tentang kekerasan, namun ada beberapa pesan moral yang bisa didapat dari serial ini.


Orang Tua Rela Melakukan Apapun Demi Kebahagiaan Anaknya

Seong Gi-hun yang diperankan oleh Lee Jung-Jae merupakan tokoh utama dalam serial ini. Seong Gi-hun tinggal bersama ibunya yang sudah tua. Ia telah bercerai dari istrinya karena permasalahan ekonomi. Hak asuh putri mereka jatuh ke tangan sang istri karena secara ekonomi, istri Seong Gi-hun jauh lebih baik. Hal ini dikarenakan mantan istri Seong Gi-hun telah menikah dengan seorang yang kaya raya.


Pada suatu hari, putri Seong Gi-hun berulang tahun. Ibu Seong Gi-hun memintanya agar membelikan hadiah yang terbaik. Karena tidak memiliki uang, Seong Gi-hun kemudian mengambil kartu ATM milik ibunya untuk digunakan sebagai taruhan.


Seong Gi-hun memenangkan taruhan dan mendapatkan hadiah uang yang banyak. Di tengah jalan seusai mendapatkan uang judi, Seong Gi-hun bertemu dengan seseorang yang pernah dipinjami uang olehnya. Seong Gi-hun kemudian tertangkap. Sayangnya, uang tersebut sudah diambil oleh seorang wanita ketika Seong Gi-hun dikejar oleh tukang tagih utang tadiSeong Gi-hun kemudian disiksa oleh mereka karena tidak bisa mengembalikan uang pada saat itu.


Dalam perjalanan pulang, Seong Gi-hun bertemu dengan seorang lelaki. Seong Gi-hun lalu diajak bermain olehnya. Setiap kali Seong Gi-hun kalah, ia akan mendapatkan tamparan yang cukup keras di pipinya. Namun jika ia menang, ia akan mendapatkan uang dari lelaki tersebut. Setelah kalah dan mendapat banyak tamparan, akhirnya Seong Gi-hun menang dan mendapat hadiah uang dari lelaki tadi. Uang tersebut kemudian dipakai oleh Seong Gi-hun untuk membelikan hadiah kepada putrinya yang berulang tahun.


Setelah mendapat paket hadiah dari permainan ambil boneka, Seong Gi-hun kemudian mengajak putrinya untuk makan malam di sebuah warung yang berada di tepi jalan.


Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa, seburuk apapun seorang Seong Gi-hun, ia rela melakukan apa saja agar anaknya bahagia. Meski cara yang dilakukan Seong Gi-hun salah, namun besarnya rasa cinta Seong Gi-hun kepada sang putri patut kita acungi jempol.


Uang Bisa Melupakan Segalanya


456 orang peserta yang ikut dalam permainan merupakan orang yang memiliki berbagai masalah, terutama dalam keuangan.


Selain Seong Gi-hun yang memiliki banyak utang, ada juga Cho Sang-wo, teman Seong Gi-hun, yang kuliah di Universitas Nasional Seoul namun memiliki banyak utang. Kang Sae-byeok, seorang pembelot Korea Utara yang ikut permainan agar dapat membayar broker untuk menemukan dan mengambil kembali anggota keluarganya yang masih hidup yang masih melintasi perbatasan. Jang Deok-su adalah seorang gangster yang memasuki permainan untuk dapat menyelesaikan hutang judinya yang besar.


Meski permainan dalam Squid Game mempertaruhkan nyawa, namun ratusan orang ini rela ikut agar dapat membawa pulang uang yang sangat banyak. Setiap ada nyawa yang melayang, baik karena tereliminasi atau dibunuh oleh peserta lain, hadiah akan bertambah 100.000.000 won. Hal ini membuat antar peserta berfikir agar nyawa peserta lain hilang, sehingga hadiah uang bertambah banyak.


Pada suatu malam, Jang Deok-su bersama timnya merencanakan pembunuhan besar-besaran agar jumlah peserta berkurang. Jika peserta berkurang, maka total hadiah uang bertambah dan peluangnya untuk menang semakin besar.


Kerja Sama Tim adalah Kunci Kemenangan


Bagi yang sudah menonton Squid Game pasti tahu bahwa salah satu permainan yang ada adalah tarik tambang. Dalam serial Squid Game, tarik tambang yang dimainkan bukanlah tarik tambang seperti yang biasa ada di masyarakat.


Tarik tambang ini dilakukan pada sebuah ketinggian. Tim yang kalah dalam permainan ini akan otomatis terjatuh dari tewas.


Sebelum permainan dimulai, peserta diminta untuk memilih kelompok tim, meski pada saat itu tidak diberitahukan informasi apapun tentang permainan. Seong Gi-hun memilih teman-teman dekatnya untuk dijadikan tim. Salah satu anggota timnya adalah kakek Oh Il Nam yang sudah tua renta.


Ketika panitia memberitahukan permainan yang akan mereka lalui adalah tarik tambang, tim Seong Gi-hun sangat terkejut. Hal itu dikarenakan timnya terdiri dari beberapa wanita dan satu kakek tua renta yang sudah terbatas kemampuan fisiknya.


Kekak Oh Il Nam kemudian memberitahukan strategi yang ia lakukan setiap kali memenangkan permainan tarik tambang. Atas kerja sama tim yang baik, akhirnya Seong Gi-hun dan tim berasil memenangkan permainan tarik tambang.

Monday, 13 September 2021

 

Desain produk by Lutfi Yulianto

Halo, Teman-teman. Udah lama ya aku nggak nulis lagi di blog ini. Banyak banget sarang yang harus dibersihkan dan harus dihias kembali ruangnya. Hehe.


Nah, pada tulisan kali ini, aku mau sedikit cerita tentang sebuah hal yang membuat diriku bersyukur kepada Allah. Sebenarnya ada banyak banget hal yang membuat diri ini bersykur. Namun aku akan cerita satu pengalaman yang mungkin bisa kalian ambil hikmahnya.


Tahun 2017

Kalau teman-teman udah agak lama ngintip blog ini, pasti tahu dong kalau tahun 2017 aku ikut program yang namanya Rumah Muda Indonsia (RMI).


Pada waktu program masih berlangsung, aku dan teman-teman RMI pernah mendapat tugas untuk membuat desain spanduk ajakan ke masjid. Aku yang sama sekali nggak paham tentang desain, langsung pusing.

Pada saat tugas tersebut sudah ditagih, kami semua diam. Belum ada satu pun dari kami yang sudah menyelesaikannya. Padahal sebenarnya, teman-temanku bisa. Kami kemudian diberi tambahan waktu satu hari. Aku tentu saja menggunakan tambahan waktu tersebut untuk belajar desain.


Esoknya, tugas tersebut kembali ditanyakan. Lagi-lagi, belum ada yang menyelesaikannya selain aku. Meski desain yang kubuat kurang menarik, namun justru desain itulah yang kemudian dicetak untuk ditempel di masjid. Semenjak saat itu, aku kemudian diminta terus untuk membuat desain-desain spanduk masjid.


Berawal dari tidak bisa, kemudian dibuat terbiasa, lama-lama aku menjadi suka. Begitulah kira-kira yang terjadi. Hehehe.


Tahun 2019

Suatu hari, Ketua DKM di tempatku tinggal mendatangiku. Beliau memang sering memintaku untuk membuatkan desain spanduk di masjid. Namun hari itu berbeda.


"Tolong buatkan desain untuk cover produk saya dong," kata beliau.


Aku terdiam.


"Ustad bercanda aja, nih! Kan Ustad tahu sendiri kalau saya belum jago."


Aku sempat sedikit menolak, namun beliau tetap saja meminta. Akhirnya aku mengiyakannya.


"Berapa bayarnya?" tanya beliau.


"Waduh! Enggak usah, Ustad. Hehe. Ini juga cuma belajar. Nanti saya kasih harga, ternyata jelek dan nggak laku kan percuma."


"Ya sudah. Tolong buatkan dulu ya."


***

Beberapa hari kemudian, aku mengubungi Ustad itu. Kukatakan kalau desain yang kubuat sudah selesai, namun kubilang kalau desainnya standar saja. Tidak wow.


Beliau mendatangi dan melihat desain yang kubuat,


"Oke. Saya suka. Tolong kirim nomor rekening kamu ya." 


Ustad itu meminta nomor rekeningku. Dalam hati aku beranggapan bahwa beliau hanya menghiburku saja. Aku awalnya tidak memberikan nomor rekeningku, namun beliau memaksa.


***

Beberapa hari kemudian, Ustad itu menghubungiku, "Fi, makasih udah dibuatkan desain untuk produk saya ya. Alhamdulillah, hari ini ada yang order banyak banget."


Mendengar hal itu, aku gembira banget. Ketika desain yang kubuat menjadi keberkahan untuk orang lain, disitulah kebanggaan tersendiri untukku.


Dari sebuah keterpaksaan belajar desain di laptop, akhirnya ada rezeki tersendiri untuk orang lain dan, tentu saja rezeki untukku pula. Hehe.