Sunday, 15 October 2017

Nyobain Naik ke Gunung Kapur Bogor

Menjadi seorang pengangguran adalah hal yang tak diinginkan oleh semua orang. Begitu juga denganku. Sejak memutuskan untuk mundur dari dunia perkuliahan, kegiatan yang sering kulakukan agar tidak terlihat nganggur adalah jalan-jalan. Setidaknya, tetangga di rumah tak membicarakanku karena sering duduk diam di depan rumah. Atau bermain handphone di dalam kamar. Atau makan gorengan di warung kopi ibuku.

Gunung adalah salah satu tujuan utama bagi diriku dalam setiap perencanaan wisata. Menurutku, ketika berada di atas gunung, semua permasalahan yang dialami, seketika hilang. Mereka tertinggal di bawah. Mungkin ingin ikut naik, tapi tidak kuat.

16 September 2018, bersama teman-teman di Rumah Muda Indonesia, aku mencoba untuk menaiki salah satu gunung yang menjadi ikon di Kecamatan Ciampea Bogor. Namanya adalah Gunung Kapur.

Gunung Kapur memiliki tiga puncak yang terkenal. Mereka adalah Puncak Roti, Puncak Lalana, dan Puncak Galau. Tepat setahun yang lalu, aku telah berhasil naik hingga ke Puncak Roti. Tahun ini, aku mencoba untuk naik ke Puncak Galau.

Aku sempat mengira-ngira diberikan nama Puncak Galau  karena jalan menuju ke atas sangat susah. Jalanan batu kapur yang licin ketika hujan membuat para pendaki semakin galau ketika menaiki. Belum lagi, luas jalan yang ada tidak cukup untuk dilewati dua orang. Sudah pasti, pasangan remaja yang tengah kasmaran semakin galau karena tidak bisa bergandengan.

Baiklah, mari kita kabur dari imajinasiku yang ngawur itu ...

Gunung Kapur berada tepat di belakang Pasar Ciampea Bogor. Sebenarnya aku lebih senang menyebutnya Bukit Kapur karena, tingginya hanya sekitar 350 meter di atas permukaan laut saja. Tapi, baiklah, orang lebih suka menyebutnya sebagai gunung. Mau bagaimana lagi?

Akses menuju ke Gunung Kapur tidak terlalu susah. Bisa ditempuh dengan menggunakan angkot biru jurusan Ciampea atau Leuwiliang. Ketiga jalur menuju puncak juga saling berdekatan. Jadi kalau ada yang ingin mencoba ketiga puncaknya langsung, tidak perlu cemas.

Pintu masuk menuju Puncak Galau berada di tengah perkampungan warga. Ada warung kopi yang menyambut perjalanan kami pagi itu. Sepasang suami istri berusia senja siap meracik minuman pesanan kita. Senyumnya yang ramah, mampu membuat kita duduk berlama-lama di sana.

Jalan menuju ke Puncak Galau sangat terjal. Belum lagi, ketika musim hujan, sudah pasti medan yang ada lebih menyeramkan. Kita harus berpegangan ranting-ranting yang kuat jika ingin selamat.

Di puncak, ada halaman luas yang masih dipakai untuk tempat pendaratan helikopter. 

Walau terbilang pendek, pemandangan yang disajikan tidak kalah menarik dengan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Ciptaan Tuhan memang selalu indah. Dia tak pernah mengecewakan hamba-hambaNya. Sebagai manusia, memang selayaknya kita selalu bersyukur.

2 comments: