Monday, 18 October 2021

Cara Allah Mengajari Ikhlas Kepada Kita itu Berbeda ...



Enggak tau kenapa, beberapa waktu ini, aku jadi cowok yang melankolis banget. Denger lagu sedih dikit, ikutan sedih. Apalagi kalau denger lagu tentang orang tua. Udah auto mewek tuh. Sebagai perantau kelas junior, rasanya masih belum bisa tinggal jauh dari mereka. Masih pengen digendong aja. Tapi pas inget umur, kayaknya jauh dari orang tua adalah pelajaran dasar untuk menjadi dewasa.


Pernah nggak sih kalian merasa kangen banget sama keluarga, padahal dulu udah dikasih waktu bertahun-tahun dekat sama mereka. Merasa pengen cerita banyak hal ke mereka, padahal sewaktu ketemu nggak banyak bertegur sapa.


Asal kalian tau, begitulah seorang lelaki. Makhluk Tuhan yang diciptakan dengan beribu rasa gengsi. Enggan mengakui perasaan diri, namun banyak yang menuntut agar jadi makhluk yang menghargai.


Banyak wanita yang menuntut agar lelaki selalu peka. Padahal kami ini juga manusia biasa. Tidak sepenuhnya paham dengan segala bentuk isyarat yang ada. Tak bisa menebak isi hati yang sebenarnya.


Lelaki bukan tipe orang yang banyak bercerita. Namun sekali kalian dengarkan isi hatinya, sudah pasti dia telah kalian buat nyaman karenanya.


Btw, di postingan ini aku mau cerita beberapa kisah tentang kehilangan. Dimana kita tahu, kehilangan adalah salah satu bentuk cara Tuhan agar kita bisa ikhlas dalam menjalani kehidupan.


Aku menulis ini karena beberapa hari lalu aku baru saja kehilangan banyak sekali hal berharga yang kumiliki. Mulai dari Pakde dan kakekku yang meninggal di hari yang sama. Kemudian pamanku yang juga menyusul mereka 10 hari kemudian, lalu  salah satu anggota keluargaku yang mengalami keguguran setelah lama menanti momongan. Tak berselang sebulan, tetangga yang merawatku dari kecil juga ikut meninggal dunia. Semua berlangsung hanya dalam waktu sebulan. Semua itu lalu diakhiri dengan hilangnya laptop yang dengan cerobohnya kuletakkan sembarangan.


Pada awalnya aku merenung, "Ya Allah ... kenapa, sih, semuanya diambil? Aku masih butuh mereka."


Namun kemudian aku menyadari, bahwa merenung tidak akan mengembalikan mereka semua kepadaku. Ikhlas merupakan sikap terbaik yang harus ada padaku. "Ternyata begilah cara Allah mengajariku untuk menjadi orang sabar dan ikhlas," renungku kemudian. 


Aku begitu berlebihan. Menganggap Tuhan memberiku banyak sekali cobaan. Padahal sebenarnya itu adalah salah satu ujian dalam menjalani kehidupan, agar aku mendapat hadiah berupa kesabaran. 


Baiklah, ini adalah beberapa kisah nyata tentang kehilangan dari orang-orang terdekat yang pernah kutemui. Bacalah, agar kalian tidak pernah merasa bahwa cobaan kalian adalah yang terberat dari Tuhan di antara semua manusia. Bacalah, agar kalian tahu bahwa setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing. Bacalah, agar kalian tidak berkata, "Enak ya jadi dia ... Hidupnya enak terus."


Kisah Alif

Alif adalah saudara sepupuku. Saat ini usianya sudah menginjak 18 tahun. Dia menjadi remaja yang mandiri dan tak pernah merepotkan orang lain. Namun di balik mandirinya seorang Alif, ada kisah menyedihkan yang pernah dilalui olehnya.


Tahun 2012, saat usia Alif masih sembilan tahun, dia dikaruniai seorang adik laki-laki. Aqsho namanya. Ibuku yang memberikan nama.  Diceritakannya bahwa Masjidil Aqsho adalah masjid yang sangat indah. Begitulah saat kelahiran Aqsho. Kehadirannya menjadikan suasana keluarga menjadi lebih indah.


Kebahagiaan Alif tak berlangsung lama. Setahun setelah kelahiran Aqsho, kakek Alif meninggal dunia. Padahal sejak kecil, ia dirawat oleh kakek dan neneknya. Hal itu disebabkan karena ibunya adalah seorang guru, sedangkan ayahnya menjadi tentara di Papua.


Beberapa bulan setelah meninggalnya sang kakek, nenek Alif pun meninggal juga. Hal itu membuat ibu Alif kemudian meninggalkan pekerjaannya dan berfokus untuk merawat Alif dan Aqsho.


Dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 2014, ibu Alif sakit-sakitan hingga kemudian meninggal dunia. Menerima kabar itu, ayah Alif kemudian pulang dari Papua. Namun sayangnya, belum sampai di rumah, Ayah Alif juga meninggal dunia. Ini kisah nyata loh ...


Bayangin ... Alif dan Aqsho yang masih kecil, ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan.


Alif dan Aqsho kemudian dirawat oleh seorang bapak tua bernama Pak Wul.  Pak Wul sebelumnya adalah seorang perawat ibu tua yang tinggal di desa kami. Ibu itu sebelumnya adalah seorang kepala sekolah, namun sayangnya ia hidup sendirian hingga kemudian Pak Wul-lah yang merawatnya.


Tahun 2015 akhir, Pak Wul meninggal dunia. Alif dan Aqsho kemudian dirawat oleh bibinya di Sukabumi. Semenjak saat itu, aku kehilangan semua kabar tentang dia.


Tahun 2017, sewaktu aku tinggal di Bogor, aku berusaha mencari kabar tentang Alif. Alhamdulillah, setelah dua tahun mencari, aku mendapatkan informasi tentang dia. tepat di awal tahun 2019 aku menuju Sukabumi untuk menjenguk Alif dan Aqsho.


Alif di tahun 2019 sudah tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Namun sayangnya, Alif bercerita bahwa di tahun 2017, Aqsho meninggal dunia karena paru-parunya bocor. Telinganya mengeluarkan darah. Saat itu usia Aqsho masih lima tahun.


Itulah kisah Alif. Setiap kali aku merasa kehilangan, aku selalu teringat kepadanya. Masih ada yang lebih berat kehilangannya dari pada diriku. Semoga dia diberikan umur yang panjang oleh Allah.


Kisah Depi

Depi adalah temanku waktu kecil. Dulu dia adalah perempuan yang manja dan centil. Namun sekarang, dia telah memiliki usaha kuliner pribadi yang dapat menopang hidupnya. Kita tahu, bahwa di balik terbentuknya karakter seseorang, selalu ada perjuangan di baliknya.


Depi yang kukenal waktu kecil selalu berpakaian mahal. Jika orangtuanya tak membelikan baju bagus untuknya, maka dia tak mau bersekolah. Depi hidup bahagia dengan orang tua yang sangat menyayanginya.


Ketika masuk usia ke-14 tahun, Ayah Depi meninggal dunia. Hal itu membuatnya menjadi anak yang pendiam. Depi waktu itu tak secentil dulu. Depi lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu ibunya di rumah.


Masuk usia SMA, Ibu Depi meninggal dunia. Depi yang pendiam kemudian menjadi Depi yang dewasa. Ia lebih siap dalam menghadapi segala hal. Setelah ibunya meninggal, Depi mencari uang dengan cara berjualan makanan di sekolah. Bahkan selulus SMA, dia membuka warung kuliner. 


Begitulah kisah Depi. Dari seorang yang centil dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan dewasa. Semua adalah hikmah yang didapat setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.


Desi Anggi Sari

Aku punya teman bernama Desi. Dia baik dan supel kepada teman-temannya. Sewaktu sekolah, dia sering mendapatkan rangking.


Suatu hari, aku pernah bermain ke rumahnya. Dia mengajakku untuk mengintip aktivitasnya sehari-hari.


Sepulang sekolah, Desi menjadi tukang parkir salah satu  supermarket di Jombang. Hal itu dilakukannya karena sang ibu telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya saat itu dalam kondisi lumpuh. Rumah Desi hampir digusur karena adanya perselisihan kepemilikan. Namun kemudian, ia berhasil menempati rumah itu karena bantuan berbagai kerabat.


Sepulangnya dari menjadi tukang parkir, Desi mengajakku berbelanja ke pasar. Ia berbelanja untuk kebutuhan memasak malam hari Yes ... Desi memasak untuk jualan di sekolah esok harinya. Ia yang memasaknya sendiri.


Sewaktu sekolah, Desi rajin berpuasa. Hal itu membuatnya lebih menjadi siswi yang hemat.


Gimana? Desi keren, nggak? Btw, aku dan Desi dulu pernah dikira pacaran karena saking deketnya. Wkwk.


***

Tiga kisah aja yang kutulis di sini. Setiap cobaan, pasti ada hikmah di baliknya. Setiap kali mentari tenggelam, bintang-bintang bermunculan. 

1 comment: