Friday, 12 August 2022


Seperti yang kita ketahui bersama, Pengabdi Setan 2: Communion merupakan salah satu film horor yang paling ditunggu di tahun 2022 ini. Selain karena suksesnya Pengabdi Setan 2017, belum pernah gagalnya Joko Anwar dalam memproduksi film horor juga menjadi alasan utamanya.

Pengabdi Setan 2: Communion mulai tayang di bioskop mulai 04 Agustus 2022.

Mengenal Sutradara Pengabdi Setan 2: Communion
Joko Anwar merupakan sutradara dari film Pengabdi Setan 2: Communion. Pria yang pernah berkuliah di Institut Teknologi Bandung ini lahir pada 03 Januari 1976.

Beberapa film yang disutradarai oleh Joko Anwar yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah Pintu Terlarang (2009), Modus Anomali (2012), Pengabdi Setan (2017), Gundala (2019), Perempuan Tanah Jahanam (2019), dan masih banyak lagi.

Kualitas film yang digarap oleh Joko Anwar tentu saja tidak bisa diragukan lagi, hal ini-lah yang kemudian membuat dirinya mendapat berbagai penghargaan seperti Piala Citra untuk Sutradara Terbaik (2015, 2020), Piala Maya untuk Penyutradaraan Terpilih (2017), Piala Citra untuk Penulis Skenario Terbaik (2008).

Teaser dan Trailer yang Menegangkan
Sumber : Channel Youtube Rapi FIlms
Jauh sebelum penayangan Pengabdi Setan 2: Communion, masyarakat pecinta film horor sudah terlebih dahulu dibuat tegang oleh teaser dan trailer film tersebut.

Sejak bulan Januari 2022, tanda-tanda kemunculan Pengabdi Setan 2: Communion sudah mulai ditayangkan di channel Youtube Rapi Films. Mini teaser Pengabdi Setan 2 yang ditayangkan pada saat itu cukup membuat masyarakat pecinta film horor Indonesia penasaran. Bagaimana tidak, mini teaser yang hanya berdurasi 33 detik tersebut hanya menampilkan background hitam dengan suara anak kecil yang ketakutan, "Kuburan saya sempit, Mama. Daging saya digigiti belatung."

Tentu saja, bagi yang sudah menonton Pengabdi Setan 2017, akan timbul banyak pertanyaan : Siapa anak kecil yang merengek tersebut?
Sumber : Channel Youtube Rapi FIlms

Tokoh-Tokoh yang Tak Jauh Beda
Banyak tokoh dari Pengabdi Setan 2017 yang tampil kembali di film keduanya. Ada tokoh bapak yang diperankan oleh Bront Palarae. Selain itu, pemeran anak-anak Pengabdi Setan 2 juga tetap menampilan pemain lama seperti Tara Basro (Rini), Endy Arfian (Tony), Nasar Anuz (Bondi), dan tentu saja Muhammad Adhiyat (Ian si anak setan) yang ternyata muncul kembali.

Selain itu, beberapa pemain lain pun turut menambah suasana baru di Pengabdi Setan 2, seperti Jourdy Pranata (Dino), Ratu Felisha (Tari), dan ada juga Kiki Narendra (Ustadz), serta beberapa pemain lainnya.

Kelanjutan dari Pengabdi Setan 2017
Pengabdi Setan 2: Communion tentu saja merupakan kelanjutan dari Pengabdi Setan 2017.

Seperti yang telah ditayangkan di trailer-nya, latar tempat film ini berbeda dengan film pertamanya. Hampir sebagian besar latar di Pengabdi Setan 2017 adalah rumah. Namun, karena terlalu banyak teror yang mendatangi rumah tersebut, akhirnya bapak memutuskan untuk mengajak anak-anaknya pindah ke sebuah rumah susun yang berada di dekat pantai.

Dengan tinggal di rumah susun, Bapak percaya ketika ada bahaya datang, maka akan bisa dihadapi bersama-sama dengan semua orang yang tinggal di sana. Namun ternyata hal tersebut salah besar. Pada suatu malam, teror Rini dan adik-adiknya kembali datang. Lalu, kira-kira kemana semua penghuni rumah susun tersebut?

Joko Anwar sangat berhasil membawa penonton ikut terbawa ke dalam suasana yang ada di rumah susun tersebut. Teror dan mayat-mayat yang ada di rusun tersebut sukses membuat penonton ketakutan. Meski tak banyak sesi hantu yang muncul, namun ketegangan yang ditampilkan benar-benar gila.

'Hampir' Terpecahkannya Dalang Semua Teror

Sebenarnya, pada trailer film, kita sudah mulai diarahkan pada jawaban dari pertanyaan siapa dalang dari semua teror yang ada.

Meski sosok ibu sudah meninggal sejak di film pertama, namun ternyata teror-teror mematikan masih saja berdatangan. Di akhir film yang pertama, sebenarnya belum ada kepastian apakah semua setan yang meneror sudah musnah atau belum. 

Pada film kedua, penyebab dari semua teror yang ada akhirnya mulai terpecahkan. Namun meski demikian, ternyata di akhir film kedua pun penonton diberikan tanda tanya besar. Tampaknya masih ada dalang lain yang membuat teror tersebut akan bermunculan lagi. Atas hal tersebut, penonton pun mulai mengira-ngira bahwa akan ada Pengabdi Setan 3. Kita tunggu saja!

Menyeramkan. Tapi Kurang Memuaskan
Dari semua film horor yang telah tayang di Indonesia, Pengabdi Setan 2: Communion merupakan salah satu film yang terbaik. Maka tak berlebihan jika film ini ke depannya akan mendapatkan banyak penghargaan. Dengan audio dan visual yang sesuai takaran, penonton tentu saja dapat dengan mudah memahami jalan cerita yang disajikan. Tidak banyak jumpscare dan tidak kekurangan momen dengan sound menegangkan.

Meski demikian, film Pengabdi Setan 2: Communion tampaknya masih kurang memuaskan. Entah karena ekspektasiku yang terlalu tinggi terhadap film ini, atau memang banyak juga yang berpikir demikian. 

Dengan jeda lima tahun antara film pertama dengan kedua, tentu saja banyak penonton yang berpikir bahwa akan ada pemain-pemain yang dikupas lebih dalam atau diberikan spotlight yang lebih layak. Kenyataannya, aksi-aksi yang ditampilkan oleh para pemain tidak jauh beda dengan film pertamanya. 

Ada beberapa pemain yang sebenarnya tidak terlalu penting ditayangkan pada film ini. Misalnya tokoh Ustadz yang seperti kita ketahui merupakan tokoh agama, pada film Pengabdi Setan malah tidak berfungsi apa-apa selain hanya sebagai pemberi motivasi agar tokoh lain tidak ketakutan. Tokoh Dino yang diperankan oleh Jourdy Pranata pun sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap cerita yang ada. 

Jeda lima tahun tampaknya belum cukup bagi Joko Anwar untuk membuat jalan cerita yang lebih luas. Ada beberapa adegan teror yang tampak meniru pada film pertama, seperti pada saat berwudhu dan sholat. Meski tokoh yang memainkan adegan tersebut berbeda, namun seharusnya adegan lama tak perlu dimunculkan kembali agar cerita film lebih fresh.

Suara lonceng dan tokoh Ibu merupakan beberapa hal iconic yang didapatkan dari film pertama. Di film kedua, belum ada hal iconic yang bisa diingat-ingat. Hal ini mungkin karena terlalu banyaknya tokoh yang ditampilkan dengan peranan yang kurang penting. Penonton menjadi lebih fokus mengingat tiap pemain daripada hal-hal kecil yang sebenarnya penting.

Terlepas dari itu semua, Pengabdi Setan 2: Communion memang layak menjadi film horor terbaik di Indonesia. Mumpung masih tayang di bioskop seluruh Indonesia, jangan lupa nonton ya!

Monday, 13 June 2022

 

Di awal tulisan, aku mau ngenalin temen-temenku yang akan tertulis di postingan ini. Bang Sat, Aldi, Ivan, Dayu, Nazil, Faisal, Humam, Aldi, dan Suhel. Baca 'Bang Sat'nya biasa aja ya! Karena itu nama panggilan temenku hahaha. Nama aslinya Satria, tapi kami biasa manggil dia 'Bang Sat'. Biar totwit gitoh.

**
Di sebuah siang, Bang Sat mengajakku untuk naik ke Gunung Buthak. Aku yang emang lagi butuh healing pun mengiyakan ajakannya. Gaskeuuuuuun.

Aku kemudian mengajak Faisal dan Humam untuk ikut. Kemudian supaya makin banyak yang gabung, kami broadcast ajakan ini ke temen-temen lainnya. Tak lama kemudian, banyak yang mau gabung.

Kami berangkat dari Jombang sebanyak 9 orang dengan mengendarai motor. Aku dengan Faisal, Aldi dengan Humam, Suhel dengan Ivan, Aldi dengan Nazil, sementara Bang Sat sebagai ketua tim berkendara sendirian dengan motor GLnya.

Gunung Bhutak berlokasi di Kabupaten Malang, berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Gunung ini merupakan salah satu gunung yang wajib dikunjungi bagi teman-teman pendaki, khususnya yang dari Jawa Timur. *membuat fatwa sendiri

JALUR PENDAKIAN
Pendakian Gunung Butak terdapat beberapa jalur. Namun yang paling terkenal adalah jalur panderman. Jalur ini yang paling terkenal karena akses pendaftarannya lebih mudah dan lebih dekat dengan gunung yang lebih terkenal di kalangan anak-anak pramuka. Yups ... apa lagi kalau bukan Gunung Panderman.
Lutfi dan Aldi. (Kembar, nggak?)

Karena aku dan temen-temenku suka yang nggak ribet, akhirnya kami langsung daftar via jalur panderman ini buat naik ke Gunung Butak.

PERLENGKAPAN YANG DIBAWA
Perlengkapan yang kami bawa pada saat itu adalah sebagai berikut :
A. Perlengkapan Pribadi
- Tas Gunung 
- Sandal/Sepatu Gunung
- Pelindung Kepala (biar siang nggak kepanasan, malam nggak kedinginan)
- Jaket tebal (karena kami bukan serigala berbulu domba yang bisa tahan dari dinginnya sikapmu gunung)
- Kaos kaki dan sarung tangan (jaket aja nggak cukup ya.)
- Baju ganti SATU AJA. Karena kalau banyak-banyak, takut jadi beban kehidupan.
- Tisu kering dan tisu basah
- Air Minum, makanan ringan, dan obat-obatan
- Jas hujan
- Senter (biar nggak nginjek ular kalau malam)
- Sleeping Bag (biar bobo makin nyaman)
- POWER BANK (tau kan kenapa ini harus banget dibawa?)
B. Perlengkapan Kelompok
- Tenda
- Kompor portabel dan peralatan masak yang enteng. Eggak usah bawa tabung gas 3 kg. Itu berat! Biar Dilan saja ...
- Trash Bag (Buat membuang kenangan bareng mantan)
- Beras secukupnya, atau mie instan (sesuai selera aja)

PERJALANAN
Kami memulai pendakian jam 1 siang. Bang Sat memimpin doa agar selama perjalanan diberi kelancaran, sementara aku sibuk mengabadikan kenangan buat kebutuhan konten. Hehe.

Selesai berdoa, kami mulai berjalan. Bang Sat berada paling depan. Kemudian disusul Humam, Faisal, dan Ivan. Karena aku yang paling gemoy, jadi berjalan di bagian tengah. Di belakangku ada Nazil, Dayu, Aldi, dan Suhel.
Jalur Gunung Butak. Habis kebakaran

Oh iya ... kalian tau nggak ... sebelum mulai mendaki, kami istirahat sebentar di musholla yang berada di dekat pos pendaftaran. Karena kebetulan kami capek berkendara dari Jombang ke Malang, jadi kami sekalian masak indomie di musholla itu.

Kami mendaki saat musim kemarau. Hal itu menyebabkan sebagian hutan di Gunung Butak terbakar.

*Saat malam tiba
Malam sudah tiba, sementara kami belum tiba di puncak gunung. Meski kondisi musim kemarau, namun cuaca di gunung tidak bisa diprediksi. Sekitar habis isya, hujan mengguyur kami. Akhirnya, kami harus mendirikan tenda.

Bang Sat, Faisal, Dayu, dan Humam mendirikan tenda. Ivan, Suhel, dan Nazil menyiapkan kompor untuk makan malam kami. Sementara aku dan Aldi duduk santai sambil memantau mereka. Yah ... begitulah tim. Harus terbagi rata kerjanya. Karena kami percaya, adil nggak harus sama.

Selesai makan malam, kami kemudian istirahat agar besok biesa berangkat saat pagi buta.
Dari kiri ke kanan : Humam, Bang Sat, aku, dan Aldi

Pukul 3 pagi, kami menyiapkan peralatan secukupnya untuk segera berangkat menuju puncak.

Oh iya, sekedar info aja ya ... di Gunung Butak nggak ada pos peristirahatan kayak di gunung-gunung lainnya. Kami mengandalkan area yang luas untuk istirahat dan mendirikan tenda.

Kami membawa peralatan secukupnya. Jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan tentu saja senter, serta barang berharga lain. Sementara peralatan yang berat seperti tas, kompor, kami tinggal di tenda agar perjalanan selanjutnya lebih ringan.

Suhu Gunung Butak jam 3 pagi sangat dingin. Sarung tangan dan jaket tebal kami belum cukup untuk melindungi diri biar lebih hangat. Jalur di Gunung Butak cukup melelahkan. 

Meski memiliki ketinggian 2868 meter di atas permukaan laut, Gunung Butak tak seramai gunung-gunung tinggi lainnya. Hal ini yang menyebabkan Aldi merasa sedikit ketakutan. Hal ini tentu saja karena suara hutan yang cukup menyeramkan ditambah dengan suhu dingin yang menusuk.

Sepanjang jalan, Aldi mengucap istighfar dan membaca sholawat. Rasa takut Aldi itu yang kemudian juga membuatku ikutan takut. Sebenernya sih aku nggak terlalu takut dengan sepinya malam. Tapi kalau ada yang ketakutan, aku suka ikut-ikutan.

Rasa takut itu kemudian membuat perutku menjadi mules. Hal itu tentu saja juga disebabkan oleh 2 piring indomie dan nasi yang kuhabiskan sebelumnya. Persediaan air kami kurang jika aku pakai buat cebok. Baiklah ... akhirnya aku tahan.

Eits ... ternyata itu adalah keputusan yang salah. Menahan BAB ternyata malah membuat perut makin sakit, jalan makin lemas. 

Akhirnya kami memutuskan istirahat aku mencari tampat yang aman dari sorotan kamera.

Semak belukar menjadi sahabatku untuk melindungi diri saat BAB. Sebagai gantinya air, aku bersuci dengan menggunakan tisu kering, kemudian disiram air secukupnya.

TIPS BUANG AIR SAAT DI GUNUNG
1. Cari semak yang rimbun, agar terhindar dari sorotan netijen.
2. Jangan buang air di sumber air. Karena pendaki biasanya mengambil air untuk minum dari sumber air tersebut.
3. Jangan buang air di jalur pendakian. Kasihan kalau keinjek sama orang lain. Bau bangeeet.
4. Tidak perlu pakai botol plastik. Langsung buang, bersuci, amankan jejak, tinggal deeeh.
5. Timbun kotoran dengan tanah. Biar baunya nggak mengganggu pendaki lain.


Jam 7 pagi, kami tiba di savana Gunung Butak, sebuah padang rumput yang sangat indah di atas gunung butak. Pagi itu, karena selama semalaman Aldi ketakutan, jadi dia lemas dan kelelahan. Perjalanan tak kami lanjutkan sampai ke puncak. Keselamatan tim adalah hal yang harus diperhatikan.

Di savana tersebut kami bertemu dengan beberapa pendaki lain. Meski tak banyak, namun cukup mengobati rasa kesepian kami selama perjalanan. Sebenarnya, jarak dari savana ke puncak tinggal 1 jam. Namun karena ada satu yang tidak bisa, jadi kami pun menemaninya untuk tidak ke puncak juga. 

***

Tuesday, 7 June 2022

Warbiasaaaah ...
Satu kata untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Setelah melewati drama nggak bisa mudik tahun 2020 dan drama mudik disekat-sekat tahun 2021, akhirnya ... tara ...!!! tahun ini bisa mudik dengan tuma'ninah dan penuh kedamaian.

Seneng nggak? Seneng nggak? Seneng lah ... Masa Enggak ...

Kalian yang mudik pakek kendaraan pribadi, udah bisa banget lewat jalur mana aja. Nggak usah nyari jalan tikus buat menghindari penyekatan. Yang mau pakek kendaraan umum, yaaah ... ini agak ribet yeee buat kalian yang belum vaksin koronamaru. 

Fyi, kemaren tuh aku mudik naik kereta api. Karena aku baru vaksin dua kali, jadi aku harus ngasih hasil rappid tes ke petugas di stasiun. Tapi woles aja gess ... di tiap stasiun biasanya disiapin tempat buat rappid tes dan harganya mumer kok. Buat kelen yang udah vaksin tiga kali, nggak usah pakek rappid tes. Langsung pesen tiket, cusss berangkat.

Seminggu di rumah udah cukup buat ngobatin kangen sama keluarga. Apalagi buat aku yang nggak betahan banget duduk diam di rumah. Yang penting udah bisa pulang, pelukan sama keluarga, kangen-kangenan, pokoknya semua momen netes eluh cendol dawet udah dilakuin, ya berarti saatnya balik ke kenyataan hidup.

*ceritanya udah beres mudik
Beres mudik dari kampung, aku langsung balik ke Bogor untuk menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Wekaweka *sokSibuk.

Nah ... karena aku datang sebelum hari masuk, akhirnya aku memutuskan untuk main dulu ke rumah temen yang ada di Banten. Aku ngajak temenku satu lagi. Namanya Yudha.

Aku dan Yudha ke Banten naik motor.
Rumah temenku ada di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak. Padahal kalau di peta, Kabupaten Lebak dan Bogor itu bersebelahan. Dari Bogor ke arah barat, udah langsung masuk Kabupaten Lebak. Tapi ternyata ... Lebak itu GEDEEEEEEE BANGEEEEEET.

Cerita Selama di Perjalanan
Kami berangkat dari Bogor jam 10 pagi. Enggak sampe satu jam, kami udah masuk di Kabupaten Lebak. Awalnya kami pikir lokasi rumah temen kami tinggal beberapa menit lagi. Tapi ... kami salah fergusoooo! Wellcome to the jungle. Kami ternyata baru memulai perjalanan

Jam 11 siang kami mampir sebentar ke warung buat makan siang dan sholat jumat sekalian. Kami nggak tau itu daerah mana, because tempatnya di kampung tengah hutan.  Yuda beli bakso, sementara aku beli bakso yang lebih gede. *mumpung ditraktir, jadi nanggung kalau ngambil yang kecil.
Jam 4 sore kami sampai di rumah temenku, Adang.
Rumah dia deket banget sama pantai. Depan rumah udah jalan raya , dan habis jalan raya udah bisa nyemplung ke pantai. Enak banget, kan?

Setibanya di rumah Adang, kami istirahat sebentar buat nyenderin kaki yang selama tujuh jam ngelipet di atas motor.

Orangtua Adang baik banget sama kami. Segala makanan dan minuman di rumah langsung disuguhin buat kami. Mulai dari pisang goreng, tahu bulat, es jeruk, sampai khong guan isi rengginang pun disuguhkan. Alhamdulillah, semoga makin sehat ya mereka.

Meluncur ke Pantai
Awalnya, kami berniat main ke Pantai Sawarna. Namun, karena pantai Sawarna udah ramai bangeeeet, jadi kami belok ke pantai lain yang tak kalah indah, Pantai Pulomanuk namanya.

Eh bentar ... bentar !!!

Sebelum ke pantai, mampir dulu ke jembatan yang ada di Bayah ini.


Jembatan ini berada di jalan menuju Pantai Pulomanuk *kalau kita berangkat dari Kecamatan Panggarangan.

Mayan lah ... buat kalian yang kecapekan di jalan, bisa istirahat sebentar di jembatan ini. 

Eits ... 

jembatan ini bukan buat tempat wisata ya. Tapi kalau buat ngelurusin kaki sebentar, bisa lah. Asalkan naruh motornya aman dan nggak di pinggir jalan, gaskeeuuun.

Sambil istirahat bentar, kita bisa menikmati hijaunya pepohonan dan pegunungan di tepi pantai, juga sambil menikmati para nelayan yang akan berlayar. Syahdu nggak tuh?? Syahdu lah ... masa enggak.

Dari jembatan tersebut, jarak ke Pantai Pulomanuk kurang lebih 5 menit dengan mengendarai motor.
Jalan menuju pantai banyak lubangnya loh. Jadi harus berhati-hati. Nek ngebut yooo ajor juuuum ...!!!

Meski melewati jalan yang grojal-grajul, tapi semua itu akan terbayar kontan dengan indahnya Pantai Pulomanuk.

Eng ... anu ...

Sebenernya kalau menurut aku, Pantai Pulomanuk nggak secantik pantai-pantai lain yang lebih terkenal kayak Parangtritis, Pantai Pangandaran, dan beberapa pantai selatan lainnya. 

Tapi bentar dulu deh ... 

buat kalian yang suka kedamaian, maka Pantai Pulomanuk adalah jawaban terbaik untuk itu.

Damai bukan berarti sepi loh ya. Damai yang aku maksud  adalah tenang., enggak seramai pantai wisata lainnya. Jadi meskipun sepi, kalian nggak usah takut sama penjahat. Karena dijamin ... keamanannya full service, gaes! Malahan plus plus!
Pantai Pulomanuk terletak berdekatan dengan pabrik yang akhrinya ketika di foto berasa kayak ala-ala luar negeri. Muehehehe.

Oh iya, ngomong-ngomong, harga tiket masuk ke Pantai Pulomanuk Rp5.000. Belum termasuk parkir. Nah ... biasanya kalau ada penjaga nakal, akan dikasih harga yang lebih tinggi.

Terlepas dari hal itu, Pantai Pulomanuk tetaplah recomended  banget.

Saturday, 4 June 2022

 


Aku tak pernah membenarkan hubungan yang bernama pacaran, namun tentu saja aku tak bisa menyalahkan perasaan sayang.

Sebagai manusia biasa, aku pun merasakan jatuh cinta. Perasaan yang timbul ketika bertemu dengan wanita.

Allah Sang Maha Pencipta memiliki sifat pengasih dan penyayang, Dia-lah Tuhan yang Maha Mencintai dan menyayangi. Mana mungkin kita yang telah diciptakan dengan hati, tidak boleh mencintai?

Kita mungkin bisa dengan mudahnya mencintai orang lain. Namun memaksanya untuk membalas cinta, bukanlah hak kita.

Tulisan ini hanya sebuah pengungkapan rasa kekesalan. Orang umum lazim menyebutnya sebagai curhatan. Namun aku enggan melebih-lebihkan kesedihan. Aku hanya ingin sedikit menumpahkan kegalauan.

*
Dua belas tahun lalu aku mengenal wanita ini. Wanita yang saat awal masuk Madrasah Tsanawiyah, duduk berdekatan denganku. Wanita itu dengan riangnya menyambut diriku yang telah dua pekan absen dari masa orientasi sekolah. Dia menyapaku. Aku langsung menikmati obrolan pertama itu.

Dia tak pernah mempersoalkan apa pun yang kurang dari padaku. Aku pun tak pernah membahas segala yang tak kusuka terhadapnya. Semua kupendam. Kami saling meyakini bahwa ketidaksempurnaan ada pada setiap insan di bumi.

Kami menjalani belasan tahun dengan cara yang sederhana. Kami tak berpacaran. Kami saling menjaga, meski untuk bertemu mungkin hanya bisa sesekali saja.

Terima kasih kepada media sosial, yang telah menemani kami dalam membangun hubungan layaknya di atas kapal. Kami benar-benar merasakan bagaimana menjaga hubungan di atas jalan yang terjal. Meski selama itu benar-benar menguji mental, namun kami yakin suatu saat akan ada kebahagiaan yang mengawal.

Beberapa waktu silam aku pernah berkata padanya, andaikan kami tak disatukan dalam ikatan yang bernama rumah tangga, semoga kami akan selalu dipertemukan dalam keadaan yang baik-baik saja.

Keyakinan yang saling kami tumbuhkan sebelumnya, ternyata hanyalah impian belaka. Dia telah memilih lelaki lain untuk dapat memasangkan cincin di jarinya. Aku terlalu hanyut dalam ketidakpercayaandirianku untuk dapat mengikrarkan hubungan, yang kemudian malah membuat orang lain mendahuluiku.

Semua yang kupersiapkan untuk dapat menemaninya kelak, rasanya hanyalah hal sia-sia. Kepercayaan yang telah lama kujaga, langsung hancur tak bersisa.

Aku tak pantas untuk menghalangi langkahnya. Namun tentu saja aku berhak untuk menangisinya. Rasanya dusta jika kali ini aku berkata bahagia saat melihatnya bahagia. 

Aku harus bisa melepasnya, meski nyatanya tidak benar-benar bisa. 

Semoga Tuhan dapat menghapuskan perasaan ini kepada dirinya.

Terakhir, lagu ini aku persembahkan untuk dirinya yang telah menemaniku dari lama. Semoga kebahagiaan selalu bersamanya.




Bogor, 04 Juni 2022,
Seseorang yang sedang merenungi kisah.

Thursday, 31 March 2022

Industri perfilman Korea nampaknya tak pernah mengecewakan para penonton di seluruh belahan dunia. Mulai dari film bergenre Horor, Thriller, Laga, bahkan tentu saja Romance, hampir semuanya laris di pasaran. Sebut saja film 'Train to Bussan'. Film yang bercerita tentang mayat hidup ini sukses besar dan berhasil menghipnotis para penontonnya. Film ini mendapatkan jumlah penonton sebanyak 11juta orang di Korea Selatan. Hal ini membuktikan, meski lebih terkenal dengan drama romancenya, namun ternyata film horor dari Korea Selatan bisa membuat hati penonton terpikat.

Setelah sukses dan mendapat banyak penghargaan, Train To Bussan kemudian mengeluarkan film keduanya yang berjudul 'Peninsula'. Masih sama, film ini laris manis!

Melihat respon penonton yang luar biasa, Korea Selatan akhirnya merilis drama bertemakan zombi kembali. Namun kali ini bukan dalam bentuk film, melainkan series.

  Fakta Tentang Series 'All off Us Are Dead'  
All Of Us Are Dead (selanjutnya ditulis AOUAD) merupakan serial dari Korea Selatan yang bercerita tentang zombi. Serial ini telah tayang sejak 28 Januari 2022 kemarin di Netflix. Berikut adalah beberapa fakta tentang serial AOUAD

Diangkat dari Webtoon
AOUAD merupakan serial Netflix yang diangkat dari cerita di webtoon berjudul Now at Our School, All of Us Are Dead karya Joo Dong-geun. Popularitas yang tinggi dari webtoon inilah yang kemudian membuat para pemain tertarik untuk bergabung berperan dalam AOUAD.


Bertema Zombie 
Seperti yang sudah tertulis di atas, bahwa drama zombie Korea benar-benar dinantikan oleh para pecinta film. Hal ini tentu saja merupakan dampak dari suksesnya film Train to Bussan sebelumnya.

Selain bertemakan zombie, mayoritas cerita dari AOUAD berlatarkan lingkungan sekolah. Tentu saja, ini merupakan pemikat yang baik, karena sebagian besar penikmat drama korea memang berusia anak sekolah. Meski demikian, series ini juga didukung dengan hadirnya side story berupa cerita di luar lingkungan sekolah, misalnya kondisi di rumah pemain, di tempat pengungsian korban zombi, dan beberapa tempat lain.

Berbeda dengan drama lain yang lebih memusatkan cerita pada beberapa tokoh, karakter yang ditampilkan pada series ini cukup banyak, sehingga memberikan suasana yang lebih hidup dan natural.

Semua karakter yang dibawakan oleh pemain ditampilkan dengan sangat baik. Hal ini tentu memberikan kesan unik pada setiap tokohnya.

Bikin Deg-Degan 
Seperti drama thriller pada umumnya, AOUAD juga membuat penontonnya deg-deg an nggak berhenti-berhenti! Namun yang spesial dari AOUAD adalah kelanjutan ceritanya yang tidak mudah ditebak. AOUAD dikemas dengan alur maju pada ceritanya. 

Setiap episodenya selalu bikin penasaran dan sayang banget buat ditinggal. Penonton series ini bakal sering ngedumel sendiri, Lho kok malah ini yang mati! Lho kok dia kegigit zombi sih! Lho kok dia masih hidup sih? 

Visualisasi yang Sempurna!
Penampilan tokoh yang menarik dan alur cerita yang menghibur  akan terasa sia-sia jika visualisasi yang ditampilkan kurang baik. Hal ini sering terjadi pada beberapa film/series terutama di Indonesia. Sinematografi yang digarap dengan baik pada series ini patut diacungi jempol. 


Meski banyak yang menilai series ini terlalu bertele-tele, namun nyatanya AOUAD berhasil meraih  poin tertinggi dari seluruh pemutaran perdana drama Korea di Netflix.

Buat kamu yang suka series bergenre horor dan thriller, All of Us Are Dead harus banget masuk dalam list yang wajib kamu tonton!