Monday, 13 June 2022

Mencret di Gunung

 

Di awal tulisan, aku mau ngenalin temen-temenku yang akan tertulis di postingan ini. Bang Sat, Aldi, Ivan, Dayu, Nazil, Faisal, Humam, Aldi, dan Suhel. Baca 'Bang Sat'nya biasa aja ya! Karena itu nama panggilan temenku hahaha. Nama aslinya Satria, tapi kami biasa manggil dia 'Bang Sat'. Biar totwit gitoh.

**
Di sebuah siang, Bang Sat mengajakku untuk naik ke Gunung Buthak. Aku yang emang lagi butuh healing pun mengiyakan ajakannya. Gaskeuuuuuun.

Aku kemudian mengajak Faisal dan Humam untuk ikut. Kemudian supaya makin banyak yang gabung, kami broadcast ajakan ini ke temen-temen lainnya. Tak lama kemudian, banyak yang mau gabung.

Kami berangkat dari Jombang sebanyak 9 orang dengan mengendarai motor. Aku dengan Faisal, Aldi dengan Humam, Suhel dengan Ivan, Aldi dengan Nazil, sementara Bang Sat sebagai ketua tim berkendara sendirian dengan motor GLnya.

Gunung Bhutak berlokasi di Kabupaten Malang, berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Gunung ini merupakan salah satu gunung yang wajib dikunjungi bagi teman-teman pendaki, khususnya yang dari Jawa Timur. *membuat fatwa sendiri

JALUR PENDAKIAN
Pendakian Gunung Butak terdapat beberapa jalur. Namun yang paling terkenal adalah jalur panderman. Jalur ini yang paling terkenal karena akses pendaftarannya lebih mudah dan lebih dekat dengan gunung yang lebih terkenal di kalangan anak-anak pramuka. Yups ... apa lagi kalau bukan Gunung Panderman.
Lutfi dan Aldi. (Kembar, nggak?)

Karena aku dan temen-temenku suka yang nggak ribet, akhirnya kami langsung daftar via jalur panderman ini buat naik ke Gunung Butak.

PERLENGKAPAN YANG DIBAWA
Perlengkapan yang kami bawa pada saat itu adalah sebagai berikut :
A. Perlengkapan Pribadi
- Tas Gunung 
- Sandal/Sepatu Gunung
- Pelindung Kepala (biar siang nggak kepanasan, malam nggak kedinginan)
- Jaket tebal (karena kami bukan serigala berbulu domba yang bisa tahan dari dinginnya sikapmu gunung)
- Kaos kaki dan sarung tangan (jaket aja nggak cukup ya.)
- Baju ganti SATU AJA. Karena kalau banyak-banyak, takut jadi beban kehidupan.
- Tisu kering dan tisu basah
- Air Minum, makanan ringan, dan obat-obatan
- Jas hujan
- Senter (biar nggak nginjek ular kalau malam)
- Sleeping Bag (biar bobo makin nyaman)
- POWER BANK (tau kan kenapa ini harus banget dibawa?)
B. Perlengkapan Kelompok
- Tenda
- Kompor portabel dan peralatan masak yang enteng. Eggak usah bawa tabung gas 3 kg. Itu berat! Biar Dilan saja ...
- Trash Bag (Buat membuang kenangan bareng mantan)
- Beras secukupnya, atau mie instan (sesuai selera aja)

PERJALANAN
Kami memulai pendakian jam 1 siang. Bang Sat memimpin doa agar selama perjalanan diberi kelancaran, sementara aku sibuk mengabadikan kenangan buat kebutuhan konten. Hehe.

Selesai berdoa, kami mulai berjalan. Bang Sat berada paling depan. Kemudian disusul Humam, Faisal, dan Ivan. Karena aku yang paling gemoy, jadi berjalan di bagian tengah. Di belakangku ada Nazil, Dayu, Aldi, dan Suhel.
Jalur Gunung Butak. Habis kebakaran

Oh iya ... kalian tau nggak ... sebelum mulai mendaki, kami istirahat sebentar di musholla yang berada di dekat pos pendaftaran. Karena kebetulan kami capek berkendara dari Jombang ke Malang, jadi kami sekalian masak indomie di musholla itu.

Kami mendaki saat musim kemarau. Hal itu menyebabkan sebagian hutan di Gunung Butak terbakar.

*Saat malam tiba
Malam sudah tiba, sementara kami belum tiba di puncak gunung. Meski kondisi musim kemarau, namun cuaca di gunung tidak bisa diprediksi. Sekitar habis isya, hujan mengguyur kami. Akhirnya, kami harus mendirikan tenda.

Bang Sat, Faisal, Dayu, dan Humam mendirikan tenda. Ivan, Suhel, dan Nazil menyiapkan kompor untuk makan malam kami. Sementara aku dan Aldi duduk santai sambil memantau mereka. Yah ... begitulah tim. Harus terbagi rata kerjanya. Karena kami percaya, adil nggak harus sama.

Selesai makan malam, kami kemudian istirahat agar besok biesa berangkat saat pagi buta.
Dari kiri ke kanan : Humam, Bang Sat, aku, dan Aldi

Pukul 3 pagi, kami menyiapkan peralatan secukupnya untuk segera berangkat menuju puncak.

Oh iya, sekedar info aja ya ... di Gunung Butak nggak ada pos peristirahatan kayak di gunung-gunung lainnya. Kami mengandalkan area yang luas untuk istirahat dan mendirikan tenda.

Kami membawa peralatan secukupnya. Jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan tentu saja senter, serta barang berharga lain. Sementara peralatan yang berat seperti tas, kompor, kami tinggal di tenda agar perjalanan selanjutnya lebih ringan.

Suhu Gunung Butak jam 3 pagi sangat dingin. Sarung tangan dan jaket tebal kami belum cukup untuk melindungi diri biar lebih hangat. Jalur di Gunung Butak cukup melelahkan. 

Meski memiliki ketinggian 2868 meter di atas permukaan laut, Gunung Butak tak seramai gunung-gunung tinggi lainnya. Hal ini yang menyebabkan Aldi merasa sedikit ketakutan. Hal ini tentu saja karena suara hutan yang cukup menyeramkan ditambah dengan suhu dingin yang menusuk.

Sepanjang jalan, Aldi mengucap istighfar dan membaca sholawat. Rasa takut Aldi itu yang kemudian juga membuatku ikutan takut. Sebenernya sih aku nggak terlalu takut dengan sepinya malam. Tapi kalau ada yang ketakutan, aku suka ikut-ikutan.

Rasa takut itu kemudian membuat perutku menjadi mules. Hal itu tentu saja juga disebabkan oleh 2 piring indomie dan nasi yang kuhabiskan sebelumnya. Persediaan air kami kurang jika aku pakai buat cebok. Baiklah ... akhirnya aku tahan.

Eits ... ternyata itu adalah keputusan yang salah. Menahan BAB ternyata malah membuat perut makin sakit, jalan makin lemas. 

Akhirnya kami memutuskan istirahat aku mencari tampat yang aman dari sorotan kamera.

Semak belukar menjadi sahabatku untuk melindungi diri saat BAB. Sebagai gantinya air, aku bersuci dengan menggunakan tisu kering, kemudian disiram air secukupnya.

TIPS BUANG AIR SAAT DI GUNUNG
1. Cari semak yang rimbun, agar terhindar dari sorotan netijen.
2. Jangan buang air di sumber air. Karena pendaki biasanya mengambil air untuk minum dari sumber air tersebut.
3. Jangan buang air di jalur pendakian. Kasihan kalau keinjek sama orang lain. Bau bangeeet.
4. Tidak perlu pakai botol plastik. Langsung buang, bersuci, amankan jejak, tinggal deeeh.
5. Timbun kotoran dengan tanah. Biar baunya nggak mengganggu pendaki lain.


Jam 7 pagi, kami tiba di savana Gunung Butak, sebuah padang rumput yang sangat indah di atas gunung butak. Pagi itu, karena selama semalaman Aldi ketakutan, jadi dia lemas dan kelelahan. Perjalanan tak kami lanjutkan sampai ke puncak. Keselamatan tim adalah hal yang harus diperhatikan.

Di savana tersebut kami bertemu dengan beberapa pendaki lain. Meski tak banyak, namun cukup mengobati rasa kesepian kami selama perjalanan. Sebenarnya, jarak dari savana ke puncak tinggal 1 jam. Namun karena ada satu yang tidak bisa, jadi kami pun menemaninya untuk tidak ke puncak juga. 

***

1 comment:

  1. Wkwkwk tips yg bagus biar BABnya aman dari sorotan netijen

    ReplyDelete